SMSM dan DRMA efisiensi operasional redam dampak konflik global

osingweb

teman -, JAKARTA — Pelaku usaha komponen otomotif nasional menerapkan strategi adaptif, salah satunya efiensi operasional, untuk menghadapi tekanan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan biaya operasional industri.

Emiten komponen otomotif, PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM), memproyeksikan industri akan menghadapi tantangan berat sepanjang 2026. Selain ketidakpastian ekonomi global, pelemahan daya beli di pasar ekspor juga berpotensi menekan kinerja.

Wakil Direktur Utama SMSM, Ang Andri Pribadi, menyampaikan persaingan harga semakin ketat, terutama dari produsen berbiaya rendah yang mampu menekan margin industri.

Untuk merespons kondisi tersebut, perseroan memperkuat hubungan dengan pelanggan sekaligus menjaga kualitas produk dan ketepatan pengiriman. Di saat yang sama, efisiensi operasional terus ditingkatkan guna menjaga profitabilitas.

“Hal ini didukung oleh relevansi produk perseroan yang tetap terjaga, mengingat kendaraan listrik masih membutuhkan berbagai sistem filtrasi dan pendinginan, seperti cabin air filter, battery cooling filter, serta HVAC filter untuk aplikasi non-mesin,” ujar Andri kepada Bisnis, Kamis (2/4/2026).

SMSM juga menyiapkan langkah antisipatif terhadap lonjakan harga minyak dengan mengikuti perkembangan tren elektrifikasi kendaraan. Saat ini, perseroan telah memiliki sekitar 60–70 stock keeping unit (SKU) yang terkait dengan aplikasi kendaraan listrik.

Perseroan menilai pergeseran menuju kendaraan listrik bukan ancaman, melainkan bagian dari transformasi industri yang membuka peluang baru. Produk filtrasi dan sistem pendukung dinilai tetap relevan dalam ekosistem kendaraan listrik.

Langkah serupa dilakukan PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA). Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso, menyebut perseroan fokus pada peningkatan efisiensi operasional dan optimalisasi rantai pasok untuk menjaga daya saing.

Selain itu, DRMA menjaga fleksibilitas produksi agar tetap adaptif terhadap fluktuasi permintaan pasar. Diversifikasi portofolio produk juga menjadi strategi utama dalam menghadapi ketidakpastian global.

“Perseroan terus memperkuat diversifikasi portofolio produk, termasuk pengembangan komponen kendaraan listrik, guna mengurangi ketergantungan terhadap segmen tertentu dan menjaga kinerja tetap resilien di tengah dinamika global,” ujarnya.

DRMA juga mengembangkan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi melalui platform Dharma Connect yang dirancang sebagai wadah kolaborasi industri. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penetrasi produk berbasis elektrifikasi.

Peluang di segmen kendaraan listrik dinilai semakin besar seiring pertumbuhan pasar yang pesat. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai melonjak dari 687 unit pada 2021 menjadi 103.931 unit pada 2025, setara 12,93% pangsa pasar nasional.

Lonjakan tersebut menjadi sinyal kuat bagi pelaku industri untuk mempercepat transformasi. Diversifikasi produk berbasis kendaraan listrik dinilai menjadi strategi efektif untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

Di tengah tekanan global, kombinasi efisiensi operasional dan inovasi produk menjadi kunci bagi industri komponen otomotif. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kinerja tetap stabil sekaligus menangkap peluang pertumbuhan baru di era elektrifikasi.

Leave a Comment

Hot Nows ionicons-v5-c