BANYAK kasus penyakit jantung di Indonesia baru diketahui ketika kondisinya sudah cukup berat. Salah satu yang kerap terlambat terdiagnosis adalah penyempitan katup aorta atau aortic stenosis. Padahal, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius apabila tidak dikenali sejak dini.
Dokter spesialis jantung intervensi SCVC, I Made Junior Rina Artha menjelaskan bahwa aortic stenosis terjadi ketika katup aorta mengalami penyempitan sehingga aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh menjadi terhambat. Dalam kondisi normal, katup tersebut membuka dan menutup untuk mengatur aliran darah dari bilik kiri jantung menuju pembuluh darah utama. Namun ketika terjadi penyempitan, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah keluar.
“Kalau katupnya menyempit, jantung harus memompa lebih kuat agar darah bisa keluar. Dalam jangka panjang kondisi ini bisa memicu berbagai keluhan,” kata Junior dalam diskusi online bersama TAVI mengenai kesehatan jantung pada pertengahan Maret 2026.
Menurut dia, gejala awal penyakit ini sering kali tidak disadari. Keluhan yang muncul kerap dianggap sebagai tanda kelelahan biasa atau bagian dari proses penuaan. Karena itu, tidak sedikit pasien yang baru mengetahui adanya gangguan pada katup jantung setelah kondisinya sudah cukup parah.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas saat beraktivitas, mudah lelah, serta nyeri atau rasa tertekan di dada. Keluhan tersebut biasanya muncul ketika seseorang melakukan aktivitas fisik seperti berjalan cepat, menaiki tangga, atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih.
Selain itu, sebagian pasien juga dapat mengalami pusing atau merasa hampir pingsan ketika beraktivitas. Dalam beberapa kasus, penyempitan katup aorta bahkan dapat menyebabkan pingsan secara mendadak.
Junior menjelaskan bahwa gejala tersebut muncul karena aliran darah yang keluar dari jantung tidak dapat meningkat sesuai kebutuhan tubuh. Ketika seseorang beraktivitas, tubuh memerlukan suplai oksigen yang lebih besar. Namun jika katup aorta menyempit, aliran darah tidak dapat meningkat secara optimal.
“Akibatnya pasien bisa cepat lelah, merasa sesak, atau pusing ketika beraktivitas,” ujarnya.
Penyempitan katup aorta paling sering terjadi pada kelompok usia lanjut. Seiring bertambahnya usia, katup jantung dapat mengalami penebalan dan pengerasan akibat proses degeneratif. Meski demikian, dalam beberapa kasus kondisi ini juga dapat terjadi pada orang yang memiliki kelainan katup jantung sejak lahir.
Chief of Commercial and Operations Bali International Hospital, Dr. Noel Yeo, mengatakan salah satu tantangan dalam penanganan penyakit jantung adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal.
Menurut dia, banyak pasien baru datang berobat ketika keluhan yang dirasakan sudah cukup berat, misalnya ketika aktivitas sehari-hari mulai terganggu atau sesak napas semakin sering muncul.
“Karena itu penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal penyakit jantung dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko,” kata Noel.
Pemeriksaan jantung sebenarnya dapat dilakukan melalui berbagai metode yang relatif sederhana, mulai dari pemeriksaan fisik oleh dokter hingga pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiogram (EKG) atau ekokardiografi. Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat menilai kondisi katup jantung serta fungsi pompa jantung secara lebih rinci.
CEO HKAM Group, Steven Tee, menilai peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung perlu berjalan seiring dengan ketersediaan layanan kesehatan yang memadai. Menurut dia, diagnosis yang lebih dini akan membantu pasien mendapatkan penanganan yang tepat sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.
“Semakin cepat penyakit ini terdeteksi, semakin besar peluang pasien untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” ujarnya.
Jika tidak ditangani, penyempitan katup aorta dapat menyebabkan berbagai komplikasi, mulai dari gagal jantung hingga kematian mendadak. Karena itu, dokter mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, atau pusing saat beraktivitas.
Bagi kelompok usia lanjut, terutama mereka yang berusia di atas 60 tahun, pemeriksaan kesehatan jantung secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini. Dengan diagnosis yang lebih cepat, peluang penanganan yang lebih efektif juga akan semakin besar.
GHAEIZA KAY RASUFFI







